Dipenghujung Waktu 2025 Bersama Panenjoan

 


6 (enam) tahun sudah berlalu, padahal serasa kemarin sore kita bertemu dan memelukmu, dipenghujung tahun 2025 ini Tuhan menakdirkan kita untuk bersua kembali di tengah gemircik hujan dan siulan angin yang selalu bersaksi disetiap pertemuan kita sahabat.

Kedatanganku sore hari menjelang malam serta tidak berdayanya kaki dan dadaku, disanalah aku mulai sadar diri ini sudah tua dan perlahan ditelan waktu untuk menunju keabadian, alhmdulillah Tuhan masih memberkati dan memberikan izin untuk kita bertemu sahabat, terimkasih atas sambutan yang selalu dibungkus dengan pilu dan diakhiri dengan keindahan dan kebahagiaan, maafkan aku dipertmuan kali ini hanya membawa semngat yang tinggi dan tenaga sisa, sisa-sisa perjuangan melawan dunia yang begitu keras, tapi takjubku padamu masih tetap sama seperti dahulu kala ketika kita pertma bertemu, engkau tidak pernah lelah bahkan kehabisan tenaga untuk selalu memberikan mata air kehidupan untuk warga sekitar, engkau mampu menumbuh kembangkan pepohonan yang layu ditelan musin menjadi hijau kembali, mampu menjadi tameng angin yang dihembuskan dari langit, anginmu masih tetap ramah dan gemercik Kilauan lampu yang selalu menjadi keindahan ditengah sunyinya malam, engkau hebat engkau selalu kuat dalam semua situasi bahkan tahun terus berganti kekuatanmu semakin bertambah kuat.

Ada satu hal yang perlu aku tanyakan kepadamu, ditengah perjalanan bahkan hampir sampai dipundakmu, sempat-sempatnya aku tidak sadarkan diri, padahal tujuanku mendatangimu tiada lain dan tiada bukan aku hanya rindu padamu bahkan ketika aku coba merayap dari hadapanmu, lalu menyentuh kakimu hati ini merasakan pulang yang sesungguhnya, tapi kenapa aku merasakan kekuatan yang seolah negatif menghantam diri ini, sampai aku terlelap serta tidak sadarkan diri, padahal aku rindu, rindu kembali, rindu terhadap pelukan puncakmu yang menenangkan, apakah engkau sudah tidak rindu lagi, sehingga dirimu merasa asing dengan kedatanganku, apakah engkau juga merasakan rindu yang sama terhadapku, atau kah dirimu sudah tak mampu menahan rindu ini sehingga engkau mati rasa terhadap apa yang sudah kita obrolkan di tahun-tahun sebelumnya, atau kah sudah banyak orang yang singgah sehingga menanggap kedatanganku menjadi hal yang biasa.

Apapun kondisinya apoapun situasinya kapanpun waktunya ketika aku datang berarti aku rindu, aku masih tetap menunggu putaran waktu yang begitu keras melewati kita, dikencangnya putaran waktu itu aku berharap ada waktu yang landai untuk pergi mendatangimu, maafkan jika pertemuan ini terlalu lamu untuk aku lakukan, bukan berarti aku mudah melupakanmu dibanding hal-hal yang lain yang aku lakukan, janganlah kau menganggapku demikian hati ini, perasaan ini masih hati dan perasaan yang sama ketiak berabad-abad aku mencarimu sampai dipertemukan pertamakalinya pada waktu itu.

Izinkan malam ini aku bersetubuh dengan mu, tidur diatas perut mu yang selalu memberikan kehidupan, maafkan kedatanganku hanya membawa curahan hati yang begitu rumit, tenaga yang begitu lemah, semoga apapun yang engkau lakukan dan tumbuhkan dari dalam perutmu menjadi saksi bahwa kewajiban beribadah kepada Tuhanmu yang mulia, meskipun kita berbeda tapi aku yakin Tuhan kita sama.

Suara percikan api yang menghantam setiap cengkokan kayu bakar menjadi nada indah yang berirama ditengah sepinya malam ini, suara putaran baling-baling seakan menjadi ritme dalam pertemuan kita, dan suara riuhnya pohon menjadi teman kita menyeduh secangkir kopi serta menjadi teman akrab kita dalam pertemuan yang sayahdu ini.

Maaf baru sekarang lagi aku menemuimu secara langsung, tapi yakinku setiap pulang selalu menatapmu dari kejauhan dan memastikan semua makhluk yang hidup didalam tubuhmu selalu diberikan jalan untuk bertahan hidup dan hatiku selalu merasa tenang karena semua pepohonan serta tumbuhan yang ada didalam tubuhmu masih tampak hijau kembali seperti manusia yang selalu dilahirkan dalam dirimu.

Terkadang aku suka iri terhadapmu, apapun yang terjadi ibadahmu terhadap Tuhan tidak pernah terganggu meskipun tantangan setiap musim terus berganti, imanmu terhadap sang pencipta tidak pernah goyah dibandingkan dengan keimanan ku sebagai manusia yang seolah menjadi pemimpin di bumi ini belum bisa menjadi pemimpin yang diharapkan, jauh sekali rasanya dibandingkan dengan kemampuan dan ketegaranmu.

Maka dari itu kita sama-sama berdo’a untuk menjalani tahun 2026 kedepannya, ditahun lalu semua hal, rintangan serta tantangan sudah kita lalui bersama, sekeras apapun tangtangan dan cobaanya kita dianggap makhluk yang berhasil, berhassil melewati situasi dan kondisi bahagia bahkan sedih sudah kita lewati bersama, dan waktu ini kita tinggal hitung detik demi detik tahun 2026 akan segera tiba dihadapan kita, aku sempat mersa bingung bahkan kacau apa yang harus aku lakukan untuk menjalani tahun ini dan kedepannya, tapi aku selalu ingat kita makhluk yang senantiasa selalu beraksi bukan hanya makhluk yang selalu ditenangkan oleh mimpi-mimpi yang semu.

Aku rindu makanya aku kembali, semoga pertemuan ini menjadi pijakan yang kuat untuk kita bersama-sama dalam mengokohkan keimanan kita kepada Tuhan yang sama

---{MONZ}---
Panenjoan, 01 Januari 2026


Komentar