Sebelum kita membuka cakrawala berpikir serta supaya lebih nyaman dalam berpikirnya alangkah baiknya kita maknai terlebih dahulu ketika bertemu konflik khususnya dalam sebuah komunitas kita maknai saja konflik itu sebagai seni dalam berkomunitas, dengan memaknai konflik itu sebagai seni dalam memelihara, merawat dan menjaga suatu komunitas minimal ada jaminan kita masih bisa ngopi bareng dan masih mampu membicarakan bagaimana komunitas itu tetap terjaga keutuhan atau keberlangsungannya.
Dalam berkomunitas banyak sekali hal yang harus kita siapkan baik pemikiran, keinginan dan yang paling utama mental kita dalam mengikuti dan menjalani sebuah komunitas. Karena kalau secara mental tidak kita siapkan, jangan berharap kita bisa berkembang dan belajar dalam sebuah komunitas tersebut, karena ketika kita mengikuti suatu komunitas tujuannya yaitu bagaimana kita belajar dalam menghadapi suatu permasalahan atau suatu problematika untuk kedepannya dalam kehidupan yang nyata, dalam situasi dimana diri ini merasa bahwasanya sebuah teori itu bulsit dibandingkan dengan realita yang kita hadapi, pasti kita semua pernah atau akan pernah melewati situasi tersebut, maknya disarankan kalau kalian ingin mengikuti suatu komunitas harus komitmen terlebihdahulu permasalahan dengan diri kalian sendiri, kalau komitmen dengan diri sendiri belum selesai bagaimana bisa menyelesaikan permasalah oranglain, karena dalam komunitas yang namanya konflik itu pasti ada.
Ketika berbicara konflik dalam komunitas yang pertama sebelum kita berpikir yang lain-lain alangkah lebih baik kita melapangkan dada atau tersenyum terlebih dahulu supaya tidak menguras pemikiran dan supaya tidak membuat cepat mengkerut dahi kita saja. Bicara konflik ada yang mendidik ada juga yang membuat komunitas itu amburadul. Konflik yang mendidik misalnya ketika mendapatkan suatu problem atau masalaha si penduduk/warga dalam komunitas itu mempunyai pemikiran atau gagasan atau keinginan untuk melakukan kompetisi atau saling bersaing satu sama lain kearah yang positif. Sedangkan konflik yang membuat kita saling menghantam, saling menjatuhkan dan lain sebagainya yang kearah negative itu lah konflik yang harus kita hindari. Karena jangan sampai ngopi bareng kita itu terganggu atau hancur dengan permasalahan-permasalah yang sepele.
Tetapi kita juga harus ada upaya untuk membuat komunitas kita itu tetap keberlangsungannya terjaga, tidak hanya ketika ada kepentingan saja komunitas didekati sedangkan sudah raif kepentingannya komunitas ditinggal, endak boleh gitu, karena baik buruknya komunitas yang kita ikuti itu merupakan gambaran orang-orang yang ada didalamnya, itu yang dinamakan teori dan realita seringkali tidak sesuai.
Maknya dari awal sebelum kita membahas mengenai Konflik kita harus tersenyum terlebih dahulu, jangan sampai kita terbawa arus suasana yang ada, apalagi terbawa arus konflik ketika membaca tulisan ini, bahaya jangan sampai seperti itu sahabat. Karena mau dibahas atau pun tidak dibahas yang namanya konflik itu pasti selalu ada dalam hadapan kita, mau kita melakukan gerakan ataupun tidak melakukan gerakan tetap yang namanya konflik akan selalu berhadapan dengan manusia yang mempunyai akal sehat, kalau manusia yang tidak mempunyai akal sehat, jangankan untuk menghadapi konflik, dirinya juga sudah melebur dengan konflik itu sendiri. Kenapa ketika kita diam atau tidak melakukan gerakan, konflik itu akan datang dan berhadapan dengan kita, harus kita ingat “diam” nya kita itu merupakan konflik yang sangat besar dan harus mampu kita lalui. Maknya kalau menurut saya, itu juga kalau sepakat dan saya tidak meminta kesepakatan dari kalian semuanya juga, saya cuma berpendapat, ini juga menyanyangkan daripada Undang-undang bebas berpendapat tidak dipakai, konflik dalam satu komunitas itu merupakan seni berkomunitas, jangan sampai kita hilangkan justru harus kita organisir dengan baik, tapi jangan sampai kita ketika mendapatkan konflik dalam suatu komunitas kita bersembunyi dibalik kata “dinamika”, bukan berarti saya anti “dinamika”, dinamika oke semuanya pasti ada, tetapi kita jangan terlalu lama dilema dalam sebuah dinamika, karena yang namanya permasalah tetap harus kita selesaikan dengan mencari solusi, apalagi kita sempat tidur-tiduran, santai-santai, haha-hihi, berselimut tebal, bahkan tertidur lelap di dalam “dinamika” tadi.
Konflik itu bagaikan “Kaca di sebuah rumah”, kaca bukan cermin, apabila kaca rumah setiap waktu kita rawat maka penglihatan orang yang didalam rumah tadi ketika melihat keluar itu cerah, pasti, bahkan cemerlang, karena kacanya tadi sudah dibersihkan. Sebaliknya kalau kita tidak merawat kaca tersebut apa yang akan terjadi, yang ada kaca tersebut terlihat kusam, penuh dengan tahi lalat, penuh dengan sarang serangga, bahkan dilihat dari luar itu bagaikan sebuah goa, bagiamana yang dirasakan oleh orang yang ada didalam rumah itu, saya yakin orang yang didalam rumah itu tidak melihat secara jelas, tidak bisa melihat keadaan diluar dengan secerah mungkin yang ada hanyalah sepercik bayangan dan hanya bisa mendengar suara sedang atau akan terjadi apa diluar rumah tersebut.
Dalam komunitas juga tidak akan bisa berpikir besar apabila orang-orang yang ada didalamnya masih tersibukan dengan permasalahan sepele yang ada didalam komunitas tersebut, dan tidak akan pernah mempunyai pemikiran yang cerah dan cemerlang diluar sana karena penglihatannya pun terhalangi oleh sarang-sarang serangga tadi.
Lakukanlah hal-hal yang baik, lakukanlah hal-hal yang kecil dan pada akhirnya akan besar demi kemajuan sebuah komunitas, biarkan komunitas berjalan dengan zamannya, seburuk apapun komunitas yang kita ikuti itu merupakan gambaran “semua” orang yang pernah ada didalamnya, dan tetap harus kita perbaiki bersama, harus kita perindah bersama harus kita dukung bersama, itu yang dinamakan “ideal”, lagi-lagi seringkali antara “teori´dan “realita” seringkali berbeda.
Selamat mendewasakan diri sendiri…..!!!!!!!
----{Monz}----
27 Maret 2019
Komentar
Posting Komentar