LALAT TETAPLAH LALAT

 


Aku sangat perihatin dan sedih

Melihat seekor lalat yang terdiam dan tanpa pamrih

Menunggu kesegeran madu yang sesekali menjadi perih

Ternyata tanpa disadari bunga yang ditunggu hanyalah menjadi lirih


Malam kini telah datang 

Bunga beranjak menjadi layu

Tapi seekor lalat selalu riang

Tentang mekar dipagi hari yang di tunggu


Malam bergeser menjadi pagi

Bumipun berputar dengan rotasi

Tapi lalat selalu mengintai

Tentang harum sekuntum bunga yang berseri


Pagi pun kini telah tiba

Dan lalatpun mengintai bunga dengan mata yang sedikit terbuka

Mencoba beranjak untuk hinggap 

Tetiba kumbangpun Tengah mendekap


Lalat pun terkaget kaget

Melihat kumbang yang mulai mepet

Tanpa permisi kumbangpun mulai merangkak

Lalat pun coba menyadarkan mawar


Siangpun kini telah tiba

Lalat pun tetap setia

Melihat mawar yang semakin merembak

Dengan harum yang selalu merombak 


Waktu terus berjalan semakin ganas

Mawarpun semakin mekar ditengah teriknya panas

Ternyata bukan hanya kumbang yang datang

Melainkan beribu ribu seranggapun berterbangan


Lalat selalu berbesar hati sambil terdiam

Membayangkan tubuhnya dapat membesar

Untuk melindungi indahnya mawar

Yang semakin indah nan mekar


Lalat pun coba berpikir dan menghayal

Jika aku dapat memetik bunganya

Akan kubawa kesarangku

Dengan apik dan syahdu


Tetapi lalat itu berhati besar

Bukankah apabila bung aitu dipetik

Tentunya tidak akan pernah mekar 

Yang ada hanyalah akan melayu


Akhirnya sadar lalat tetaplah lalat

Yang hanya bisa menjilat semua keindahan

Yang bisa menjilat semua keresahan

Serta hanya lalat lah yang selalu dihujat



---{MONZ}---

Ngamprah, 23 Februari 2025


Komentar