Hari ini, 20 Mei 2026, kita kembali memperingati Hari Kebangkitan Nasional. 118 tahun sudah berlalu sejak para pemuda Boedi Oetomo menyalakan api pertama untuk Indonesia yang sadar akan dirinya sendiri. Api itu kecil, tapi cukup untuk membakar semangat persatuan di tengah perbedaan suku, bahasa, dan agama.
Tema kebangkitan tahun ini bukan sekadar mengenang masa lalu. Kita hidup di 2026, di tengah arus teknologi, kecerdasan buatan, dan tantangan global yang bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Pertanyaannya: apakah semangat Budi Utomo masih relevan?
Jawabannya iya. Karena kebangkitan hari ini bukan soal mengangkat senjata, tapi mengangkat daya saing, karakter, dan solidaritas.
Pertama, bangkit lewat ilmu dan inovasi.
Generasi kita dituntut tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi pencipta. Anak-anak bangsa harus berani masuk ke bidang riset, sains, dan kewirausahaan digital. Kemerdekaan ekonomi dimulai dari kemampuan kita menciptakan nilai sendiri. Selain itu juga peran daripada pemerintah atau pemangku kebijakan harus mengedepankan program-program inovasi yang ikut menunjang kemampuan anak bangsa yang lebih spesifik, selalu kontinue serta tidak hanya melakukan formalitas saja, harus adanya pengawasan lebih lanjut kepada setiap program yang dicanangkan serta memastikan program-program tersebut tepat terhadap saasran.
Kedua, bangkit dengan menjaga persatuan.
Perbedaan pendapat itu sehat. Tapi kalau perbedaan itu memecah belah, kita kalah sebelum bertanding. Ingat pesan para pendiri bangsa: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Di era media sosial, menjaga persatuan justru lebih menantang dan lebih penting. Berpeda pendapat boleh, tapi kedewasaan serta cara berpikir untuk saling menghormati itu sangatlah penting juga.
Ketiga, bangkit dengan integritas.
Sebesar apa pun kemajuan, kalau tidak dijaga dengan kejujuran dan tanggung jawab, akan roboh. Kebangkitan nasional harus dimulai dari setiap individu: di sekolah, di kantor, di desa, dan di kota. Rasa-rasanya semua elemen atau lapisan masyarakat bicara masalah integritas itu perlu, khususnya kalangan-kalangan pemangku kepentingan haruslah mencontoh memeberikan sauritauladan kepada masyarakat jangan sampai jabatan serta kekdudukan yang di emban itu hanya menjadi kemerosotasnya moralitas dan integritas
Boedi Oetomo lahir dari kegelisahan kaum terpelajar yang ingin negerinya maju. Hari ini giliran kita yang gelisah. Gelisah melihat ketimpangan, kemalasan, dan apatisme. Jadikan kegelisahan itu bahan bakar untuk bertindak, sekecil apa pun. Jangan sampai panggung-panggung pidato peringatan hari Kebangkitan Nasional ini hanya menjadi tempat bersolek bagaikan didepan kaca, melainkan harus senantiasa menjaga dan merawat peradaban serta melihat, memperhatikan serta mengaktualisasikanya diakar rumput, apa yang harus pertama kita bangkitkan, ditengah kemisinan yang masih begitu besar, dan apa yang harus kita tegakan ditengah pendidikan yang memang masih terguncang. Mari kita sama-sama turun kelapangan sejauhmana dan harus bagaimana kita memulai bangkit, jika kita analogikan “Kebangkitan” itu sama halnya ketika kita bangun tidur, ketika kita terbangun dari tidur tidak serta merta kita langsung berdiri tegak dan berlari, ada porses tahapan-tahapan yang harus kita lalui, nah tahapan seperti apa yang pas dan harus didahulukan ketika bicara masalah “kebangkitan” jika ditarik kepada kebangkitan bangsa ini.
Mari kita jadikan peringatan 20 Mei 2026 bukan hanya seremoni, tapi titik tolak. Titik tolak untuk bekerja lebih keras, belajar lebih giat, dan saling menguatkan.
Dirgahayu Kebangkitan Nasional ke-118.
Ngamprah Kabupaten Bandung Barat
---{MONZ}---

Komentar
Posting Komentar